Di Balik Siaran yang Tetap On Air: Catatan Empati untuk Kawan-Kawan Pers

1 Komentar
X
Bagikan

KAPOL.TV – Dalam kerja-kerja jurnalistik, bagi saya, siapa pun yang mencurahkan keringat dan pikirannya untuk menghadirkan sebuah produk berita, mulai dari reporter di lapangan, juru kamera, penyunting gambar, hingga kru di ruang siar, mereka semua adalah jurnalis. Tanpa salah satu dari mereka, tak ada berita yang sampai ke rumah kita.

​Hari ini, hati saya bergetar menyaksikan perjuangan kawan-kawan jurnalis di tvOne dan mungkin di banyak media lain di Indonesia, yang tengah memperjuangkan apa yang menjadi hak mendasar mereka.

​Kita selalu mengagungkan pers sebagai pilar keempat demokrasi. Namun, jika disandingkan dengan tiga pilar lainnya, ada satu bab besar yang hingga kini masih terus menjadi pertanyaan kelam: kesejahteraan jurnalis. Memang benar, sebagian besar dari kita meniatkan langkah di dunia media massa ini sebagai sebuah pengabdian. Tetapi pengabdian bukan berarti pengabaian terhadap hak hidup.

​Sungguh miris dan menyayat hati. Di saat layar kaca menampilkan siaran yang megah, berwarna, dan penuh informasi, di balik itu ada hati para jurnalis yang kelabu. Mereka tetap profesional, tetap merawat dedikasi, dan tetap bekerja menyampaikan kabar kepada publik, padahal di saat yang sama, mereka tengah menanti dalam cemas kepastian hak untuk menyambung hidup keluarga di rumah.

​Ironisnya lagi, perusahaan media, yang sehari-hari bergelut dengan dunia komunikasi, sering kali justru gagap berkomunikasi secara internal. Sikap minim kepastian, ketiadaan ruang diskusi yang jujur, hingga bungkamnya manajemen hanya akan menambah luka bagi para pekerja yang sudah memberikan segalanya.

​Harus kita tegaskan kembali: perusahaan media adalah badan usaha swasta pada umumnya. Mereka tidak kebal hukum. Penundaan hak pekerja yang dijamin oleh undang-undang adalah bentuk pelanggaran dan ketidakadilan yang nyata. Pemerintah beserta aparat penegak hukum harus hadir dengan tegas untuk memastikan regulasi ketenagakerjaan ditegakkan tanpa pandang bulu.

​Mengapa persoalan ini begitu dalam merasuk ke dada saya? Sebab saya pun seorang jurnalis. Saya merasakannya, dan mungkin hingga kini rasa itu masih terus membayangi. Dulu, karena rasa cinta yang begitu besar dan kepercayaan pada profesi ini, saya memilih diam dan terus bekerja. Namun, saya paham betul, kepercayaan yang terus-menerus dibalas dengan ketidakjelasan pada akhirnya hanya menyisakan patah hati yang teramat dalam.

​Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan sebentuk doa dan kepedulian yang tulus. Saya berdoa untuk seluruh jurnalis dan pekerja media di seluruh Indonesia, baik yang bersuara maupun yang terpaksa diam dalam sunyi. Saya yakin, fenomena ini bagai gunung es, apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari kondisi banyak kawan media lain yang juga sedang berjuang dalam senyap.

​Untuk kawan-kawan yang sedang berjuang: tetaplah berdiri tegak. Pengabdian kalian mulia, dan hak kalian layak untuk diperjuangkan. Semoga kejujuran dan keadilan segera menemukan jalannya. (Hasbi)

Catatan: gambar hanya pemanis