BPDP Dorong Pengrajin Tasikmalaya Olah Tempurung Kelapa Jadi Aksesori Bernilai Ekspor

Komentar
X
Bagikan

KOTA TASIKMALAYA, KAPOL.TV — Limbah tempurung kelapa yang selama ini kerap diabaikan kini disulap menjadi produk kriya bernilai jual tinggi. Langkah hilirisasi berbasis potensi lokal ini digencarkan untuk memperluas kran pendapatan masyarakat perkebunan di Daerah.

​Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui Workshop Pemanfaatan Tempurung Kelapa Menjadi Aksesoris Kreatif dan Bernilai Jual yang digelar di Auditorium FKIP Universitas Siliwangi (Unsil), Tasikmalaya, Kamis (15/10/2026). Agenda ini digagas atas kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Koperasi Produsen Jiwa Mitra Nusantara (JMN), serta LPPM Unsil.

​Hadir memberikan arahan secara virtual, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah, menekankan pentingnya pergeseran fokus dari sekadar menjual bahan mentah menuju pengolahan produk kreatif.

​“Pengembangan perkebunan kita tidak boleh berhenti pada penjualan bahan mentah atau komoditas primer semata. Kita perlu mendorong pemanfaatan hasil samping perkebunan, seperti tempurung kelapa, agar dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, peluang peningkatan pendapatan tidak hanya berada pada rantai produksi bahan baku, tetapi juga pada proses pengolahan dan pengembangan produk,” tegas Helmi saat membuka acara.

BACA JUGA: BPS Catat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Turun ke Angka 9,34 Persen, Pemkot Tekankan Intervensi Presisi

​Buka Peluang Usaha Baru untuk Petani dan UMKM

​Menurut Helmi, diversifikasi hasil samping perkebunan seperti batok kelapa bisa menjadi jalan pintas untuk menciptakan sumber mata pencaharian baru. BPDP berkomitmen tak cuma memberi pelatihan teknis, tetapi juga mengawal penguatan kelembagaan hingga akses pasar.

​“Melalui dukungan kemitraan dan pemberdayaan UMKM perkebunan, kami ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan teknisnya. Pelatihan perlu menjadi pintu masuk bagi pengembangan usaha, yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan produksi, penguatan kelembagaan, serta perluasan akses pasar,” paparnya.

​Ia menilai, sentuhan desain dan inovasi akan mengubah material yang sebelumnya dipandang sebelah mata menjadi barang bernilai tinggi.

​“Yang ingin kita dorong bukan hanya kemampuan masyarakat dalam membuat produk, tetapi juga bagaimana keterampilan tersebut dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang produktif dan berkelanjutan. Tempurung kelapa memiliki potensi ekonomi apabila diolah dengan kreativitas, desain yang baik, kualitas yang terjaga, dan strategi pemasaran yang tepat,” ungkap Helmi.

BACA JUGA: Lelang Panas Bumi Galunggung dan Ciremai Disorot, Uden Dida Efendi Desak Transparansi dan Dialog Warga

​Langkah ini dipandang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal, mulai dari penyedia bahan baku, perajin, hingga rantai distribusi.

​“Nilai tambah komoditas perkebunan tidak boleh berhenti pada produksi bahan mentah. Kita perlu mendorong masyarakat agar terlibat dalam proses pengolahan sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas. Ketika bahan baku lokal diolah menjadi produk bernilai jual, terbuka peluang peningkatan pendapatan, tumbuhnya usaha baru, dan penguatan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

​Manfaatkan Potensi Kriya Tasikmalaya Menuju Pasar Ekspor

​Dipilihnya Tasikmalaya sebagai lokasi pelatihan bukan tanpa alasan. Wilayah ini dikenal memiliki rekam jejak yang kuat di sektor industri kreatif dan kerajinan tangan. Helmi optimistis, aksesori berbahan tempurung kelapa dari Tasikmalaya mampu menembus pasar internasional jika ditopang dengan standardisasi mutu dan branding yang matang.

​“Kami melihat Tasikmalaya memiliki potensi kriya yang dapat terus dikembangkan. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin mendorong petani dan pengrajin untuk bertransformasi dari sekadar penyedia bahan baku menjadi produsen yang mampu menghasilkan produk kreatif dengan kualitas yang baik dan daya saing pasar. Ke depan, peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor, perlu dibangun melalui peningkatan mutu dan kesiapan usaha,” tutur Helmi.

​Namun, ia menegaskan program pemberdayaan ini tidak boleh berhenti hanya sampai penutupan workshop. Kolaborasi lintas sektor—termasuk keterlibatan kampus Unsil dalam inovasi desain serta peran koperasi dalam pemasaran—sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan usaha.

BACA JUGA: 28 Juta Penduduk Indonesia Mengalami Tekanan Mental, Taman Jingga & Kopi Siloka Inisiasi ‘Ngopi Curhat’ di Tasikmalaya

​“Kita ingin hasil workshop ini memiliki kelanjutan yang konkret. Peserta tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan membaca peluang pasar. Dengan dukungan kelembagaan serta akses pemasaran yang tepat, produk berbasis tempurung kelapa dari Tasikmalaya berpeluang berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki daya saing lebih luas,” tegasnya.

​Helmi menutup arahannya dengan menegaskan bahwa indikator utama keberhasilan hilirisasi ini terletak pada munculnya wirausaha-wirausaha baru yang mandiri secara ekonomi.

​“Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi bukan hanya diukur dari berapa banyak produk yang dihasilkan, melainkan juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan, membuka kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat posisi UMKM dalam rantai ekonomi. Inilah semangat pemberdayaan yang ingin kita bangun melalui pengembangan komoditas perkebunan,” pungkas Helmi. (Red)