TASIKMALAYA, KAPOL.TV — Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut kembali menunjukkan bagaimana kearifan lokal mampu menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan secara bersamaan. Di tengah berbagai tantangan ekologis modern, masyarakat adat ini tetap berpegang teguh pada prinsip hidup selaras dengan alam.
Kasepuhan Kampung Naga, Ade Suherlin, memaparkan secara rinci kondisi wilayah dan demografi pemukiman adat tersebut. Menurutnya, jumlah bangunan atau kakamah di Kampung Naga tercatat sebanyak 102 unit, dengan total keseluruhan bangunan mencapai 112 unit termasuk dua bangunan baru dari awal 110 bangunan.
”Jiwa di desa alit, aya 287 jiwa. Jadi seseurna jiwa teh tinggalna di luar, jalaran ieu mah dibatasi ku areal hektar satengah. Tatalahan pemukiman itu hektar satengah,” ujar Ade Suherlin menjelaskan batas wilayah pemukiman seluas 1,5 hektar tersebut.
Meski pemukiman inti dibatasi, wilayah adat secara keseluruhan mencakup area ribuan hektar yang meliputi dua penghujung kabupaten, yakni penghujung barat di Tasikmalaya dan penghujung timur di Kabupaten Garut.
Ancaman Lingkungan di Hulu Sungai Ciwulan
Dalam kesempatan yang sama, Ade juga menyoroti persoalan lingkungan yang berkaitan langsung dengan kehidupan warga, khususnya pencemaran dan kerusakan di daerah aliran Sungai Ciwulan yang menjadi sumber kebutuhan rumah tangga warga.
Ia mengungkapkan bahwa matinya ikan di Sungai Ciwulan sempat terjadi akibat ulah pembuangan limbah kulit di hulu sungai atau anak sungai yang bermuara ke Ciwulan, sehingga menimbulkan dampak langsung berupa keluhan gatal-gatal pada keluarga warga Kampung Naga.
Selain limbah, ancaman ekologis juga datang dari alih fungsi kawasan hutan lindung di hulu sungai—yang bersumber dari Gunung Cikuray dan Gunung Karacak—menjadi perkebunan sayur.
”Nah manakala hujan, itu kan bawa lumpur. Bahkan sempat tahun 2022, itu pernah banjir sampai ke semua kolam itu sudah habis, bahkan di sini juga itu terendam ya semata kakilah,” ungkap Ade mengenang dampak banjir besar tahun 2022.
BACA JUGA: PPPK Paruh Waktu Kota Tasikmalaya Sambut Baik Rencana Pengangkatan Penuh Waktu
Kendati demikian, prinsip hidup bersama alam tetap dipegang erat. Warga membangun rumah dari kayu dan bambu serta memasak menggunakan tungku, namun dengan kesadaran penuh bahwa lingkungan harus tetap lestari. Begitu pula dengan penggunaan atap ijuk yang kini semakin langka akibat berkurangnya hutan dan sulitnya penyebaran bibit, di mana warga selalu memprioritaskan perburuan ijuk terlebih dahulu sebelum membangun.
Ketahanan Pangan dan Manajemen Lumbung Tradisional
Terkait sektor pangan, Ade memastikan bahwa ketahanan pangan di Kampung Naga berada dalam kondisi yang sangat aman. Hal ini dikarenakan masyarakatnya menjadikan bertani sebagai mata pencaharian pokok yang berorientasi pada pemenuhan stok internal terlebih dahulu.
”Warga Kampung Naga sekalian pun ya istilahnya yang menjadi pokok mata pencaharian itu bertani. Jadi lebih mengutamakan stok pangan dulu, ketimbang hasil panen dijual,” tegas Ade.
Ia menambahkan, apabila stok pangan untuk kebutuhan sehari-hari maupun cadangan telah terpenuhi dan berlebih, barulah sisa hasil panen tersebut dijual. Setiap kepala keluarga di Kampung Naga sudah memiliki perhitungan matang secara turun-temurun mengenai porsi konsumsi dan cadangan pangan.
Sebagai pengaman utama menghadapi potensi masa paceklik, warga secara konsisten mengandalkan lumbung pangan tradisional (leuit). Jumlah simpanan di dalam lumbung ini bersifat relatif, tergantung pada besar kecilnya anggota keluarga di setiap rumah.
BACA JUGA: Menjaga Nyala Bahasa Sunda, Majalah Mangle Sukses Sabet Anugerah Kebudayaan Indonesia 2026
”Dan ada juga stok pangan untuk kebutuhan warga… apabila menghadapi masa paceklik kami sediakan lumbung… Dan leuit itu baru dibuka ketika masa paceklik tiba,” pungkas Ade. (Hasbi)
