Ungkap Praktik Senioritas di SMAN 3 Tasikmalaya, Orang Tua Korban: Budaya Bullying Harus Dihentikan

1 Komentar
X
Bagikan

KOTA TASIKMALAYA, KAPOL.TV — Praktik senioritas dan aksi perundungan (bullying) yang menimpa sejumlah siswa kelas X di SMAN 3 Tasikmalaya akhirnya terkuak. Meiza Zeina, ibu dari salah satu korban berinisial Athar (MA), mengungkapkan bahwa budaya intimidasi di sekolah tersebut sudah berlangsung secara turun-temurun dan dinormalisasi oleh para siswa.

​Menurut Meiza, anak-anak kelas X kerap merasa tidak aman dan terintimidasi bahkan saat menjalani aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.

​”Sekarang ke sini-sini akhirnya tahu, ternyata enggak nyaman dan enggak aman di sekolah itu. Kayak nongkrong di depan kelas katanya diciriin, baralaga, ngarariung wae (suka berkumpul). Baju ada yang keluar, diciriin. Atau terus ke kantin aja mereka takut, anak kelas 10 itu. Pada malas katanya, kadang kalau sama cewek dijutekin,” ujar Meiza saat diwawancarai.

BACA JUGA: SMAN 3 Tasikmalaya Buka Suara Soal Dugaan Perundungan Siswa di Luar Sekolah

​Ia menjelaskan bahwa budaya senioritas ini telah membentuk standar yang salah di mata para siswa. Anak-anak kelas X menganggap wajar jika mereka harus merasa takut terhadap siswa kelas XII.

​”Saya tanya, ‘Ntar senioritas gimana?’ ‘Iya Mah, jadi itu udah turun-temurun senioritas di SMA 3 tuh, udah dari dulu’. Jadi anak kelas 10 tuh memang harus takut sama kelas 12, dan mereka menganggapnya itu normal,” ungkapnya.

​Kondisi tersebut berdampak buruk pada pola pikir para siswa junior. Meiza mengaku prihatin dan khawatir saat mendengar putranya pernah menyampaikan keinginan untuk cepat naik kelas hanya agar bisa melakukan hal serupa kepada adik kelasnya.

​”Athar pernah ngomong, ‘Paling cepat-cepat kelas 11’. ‘Kenapa?’ ‘Biarpun bisa membuli kelas 10 nanti’. Makanya saya jadi takut kalau anak saya nanti harus jadi pelaku kalau ini dibiarkan,” tutur Meiza.

BACA JUGA: Kasus Perundungan Pelajar di Tasikmalaya Viral, Direktur Taman Jingga Sebut Sekolah Kecolongan

​Mengalami Kekerasan Fisik hingga Jalur Hukum

​Tindakan perundungan tersebut tidak hanya berupa intimidasi verbal, tetapi juga kekerasan fisik. Meiza mengungkapkan putranya mengalami pemukulan hingga meninggalkan bekas luka di bagian wajah.

​”Kalau luka yang banyak sih enggak ya, karena cuma digamparin doang. Cuman ada satu yang di mata itu, dekat pipi. Itu karena pas dipukul dari belakang katanya,” jelasnya.

​Atas kejadian ini, pihak keluarga telah melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib dan kini sedang menunggu proses hukum berjalan.

​Meiza berharap kasus ini diproses secara tuntas agar praktik senioritas dan bullying di sekolah dapat dihentikan sepenuhnya. Ia ingin putranya tetap bisa bersekolah dengan aman dan nyaman tanpa harus dibayang-bayangi ketakutan.

​”Mudah-mudahan cepat diproses. Harapan saya sih Athar bisa tetap sekolah di situ, tetap menjalani dan menghadapi semua, tapi dengan kondisi yang berbeda. Semua senioritas itu harus hilang, karena menurut saya merusak mental anak-anak. Akhirnya mereka tumbuh dendam dan menormalisasi penindasan,” tegas Meiza. (hsb)