KOTA TASIKMALAYA, KAPOL.TV – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Kota Tasikmalaya menjadi panggung bagi siswa penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan mengambil peran di ruang publik. Mereka dipercaya menjadi petugas upacara, mulai dari pemimpin upacara, pembaca teks Sumpah Pemuda, hingga pengibar bendera.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu restoran siap saji di Jalan Djuanda, Kota Tasikmalaya, Rabu (28/10/2026), melibatkan siswa dari sejumlah SLB swasta bersama Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas).
Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia”, kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya memberikan kesempatan setara bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensi.
Viola, siswa dengan disabilitas daksa, bertugas sebagai protokol. Dava yang memiliki low vision dipercaya menjadi pemimpin upacara. Sementara Nia dan Ella, penyandang disabilitas intelektual, membacakan Undang-Undang Dasar 1945 dan teks Sumpah Pemuda.
Adapun tugas pengibaran bendera dilakukan Azmi, Patra, dan Laal Bariq S. yang merupakan penyandang tunarungu. Sibqi, penyandang tunanetra, memimpin doa, sedangkan Farand dengan sindrom Down bertugas sebagai ajudan.
BACA JUGA: FISIP Unigal Ciamis Gandeng DPRKPLH dan IJTI Galuh Raya
Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Enan Suherlan, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong perhatian lebih besar terhadap hak-hak penyandang disabilitas.
Menurut Enan, perhatian tersebut perlu diwujudkan melalui akses pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga kesempatan kerja agar penyandang disabilitas dapat menjalani kehidupan secara mandiri.
“Ini merupakan kegiatan yang luar biasa tentunya pertama di Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Ia menekankan, penyandang disabilitas harus memperoleh ruang dan keadilan yang sama, termasuk dalam memasuki dunia kerja. Karena itu, diperlukan dukungan berbagai pihak untuk membekali mereka dengan keterampilan sesuai kemampuan masing-masing.
“Tentunya ke depannya bagaimana dengan ruang-ruang kerja dibekali dengan kemampuan. Karena apa? Mereka harus diberikan ruang yang sama, keadilan yang sama tentunya untuk melanjutkan kehidupan,” katanya.
Enan juga mendorong adanya kolaborasi antara Pemerintah Kota Tasikmalaya, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas disabilitas untuk membuka peluang pemberdayaan ekonomi.
BACA JUGA: Operasi Patuh Lodaya di Singaparna, Edukasi dan Layanan Kesehatan Utamakan Keselamatan Jalan
Ia menyinggung sejumlah usaha yang dapat dijadikan proyek percontohan bagi pengembangan kemandirian penyandang disabilitas.
“Nantinya tentunya ini kan kebijakan wali kota dengan perwalkot, kita bisa disampaikan duduk bersama, menawarkan, hal ini sudah ada kan, seperti baso gejrot dan lain-lain, kan kita ada pilot project-nya,” tuturnya.
Sementara itu, pengurus Papeditas, Tata Tajudin, mengatakan peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk mengapresiasi kegigihan anak-anak disabilitas sekaligus memperkuat pendampingan terhadap mereka.
“Gigihnya kami apresiasi, mereka berjuang dengan segala kekurangan, apakah kita orang normal akan sanggup seperti mereka. Makanya di momen Hari Sumpah Pemuda ini kami lebih memberikan pendampingan kepada mereka,” kata Tata.
Ia menjelaskan, Papeditas telah menggelar kegiatan Sumpah Pemuda bersama penyandang disabilitas setiap tahun. Namun, sebelumnya kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan secara internal bersama para mitra.
Melalui kegiatan kali ini, Papeditas berupaya memperluas kolaborasi agar keterlibatan masyarakat dalam mendukung penyandang disabilitas semakin nyata.
“Empatinya sudah bisa secara nyata kami kolaborasi di lapangan. Ini merupakan hal yang luar biasa bisa menyelenggarakan acara ini,” ujarnya.
Usai upacara, para peserta mengikuti kitchen tour untuk mengenal lingkungan dan aktivitas di dapur restoran. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan siswa mengenai dunia kerja.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ini menjadi pengingat bahwa setiap anak muda memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi. Bagi penyandang disabilitas, kesempatan tersebut perlu didukung dengan akses, pendampingan, serta ruang yang setara agar potensi mereka dapat berkembang secara optimal. (Hasbi)
