TASIKMALAYA, KAPOL.TV – Semangat kebersamaan, sportivitas, dan penguatan profesi mewarnai Pekan Olahraga Radiografer (POR) yang diinisiasi oleh Pengurus Daerah (Pengda) III Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI) Jawa Barat. Ajang ini sekaligus menjadi momentum menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 PARI.
Kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar ruang kompetisi olahraga, melainkan wadah membangun komunikasi, memperkuat solidaritas, dan menjaga kebugaran fisik di tengah padatnya tanggung jawab tenaga kesehatan.
Ketua Pengda PARI Jawa Barat, Drs. Yusuf Iskandar, S.ST., mengungkapkan bahwa POR menjadi kesempatan berharga bagi radiografer dari berbagai rumah sakit, klinik, dan institusi pelayanan kesehatan untuk berkumpul dalam suasana kebersamaan di luar rutinitas pekerjaan.
“Pekan Olahraga Radiografer ini menjadi tempat bersilaturahmi bagi para radiografer sejawat. Kami berharap melalui kegiatan ini, hubungan komunikasi antarradiografer semakin erat dan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tugas serta pengabdian sebagai radiografer,” ujarnya.
BACA JUGA: Aksi Kemanusiaan Satpam Tasikmalaya: Gelar Donor Darah HUT ke-46, Bidik 200 Labu Darah untuk Warga
Dukungan penuh turut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, dr. Aa Ahmad Nurdin, M.M., M.H., yang hadir mewakili pemerintah daerah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Ia mengapresiasi berkumpulnya keluarga besar radiografer di Kota Tasikmalaya dan menegaskan pentingnya peran mereka dalam mendukung pelayanan kesehatan, terutama di tengah perkembangan teknologi medis serta transformasi digital.
“Luar biasa, keluarga radiografer bisa berkumpul di Kota Tasikmalaya,” ungkapnya.
Ia menegaskan ketersediaan tenaga radiografer profesional perlu diperkuat agar pelayanan pemeriksaan radiologi dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas, termasuk melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat PARI, Dr. H. Sugiyanto, S.Pd., M.App.Sc. (MRI), menegaskan bahwa perjalanan 70 tahun PARI adalah bukti nyata kematangan organisasi dan konsistensi dalam mendukung pembangunan kesehatan bangsa. Ia juga menyampaikan penghormatan kepada para perintis, senior, dan pendahulu organisasi.
Menurut Sugiyanto, posisi radiografer sangat strategis karena berperan mendukung proses penegakan diagnosis melalui berbagai teknologi pencitraan.
“Peran radiografer ini menjadi mata dunia kedokteran,” tegasnya.
BACA JUGA: TP-PKK Kabupaten Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi SIPaten dan Dua Buku Karya Ketua PKK
Peran tersebut mencakup pemeriksaan sinar-X (X-ray), USG, CT scan, MRI, kedokteran nuklir, hingga radioterapi. Sugiyanto juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap keselamatan radiasi, perlindungan masyarakat, serta kode etik profesi.
“Tanpa radiografer, pelayanan medis modern tidak akan berjalan secara maksimal,” ujarnya.
Selain pelayanan diagnostik umum, radiografer juga menjadi garda penting dalam mendukung program penanggulangan tuberkulosis (TBC). Pemerintah saat ini tengah menyiapkan program penempatan sekitar 5.700 perangkat X-ray di puskesmas, yang membutuhkan dukungan SDM kompeten.
“Jangan sampai nanti ada X-ray, tetapi tidak ada radiografer,” tegasnya.
Terkait tantangan zaman, Sugiyanto berpesan agar radiografer tidak berhenti belajar menghadapi digitalisasi layanan dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI). Peningkatan kompetensi berkelanjutan menjadi kunci agar tenaga kesehatan mampu beradaptasi.
“Jangan pernah lelah untuk belajar. Terus belajar, belajar sepanjang hidup,” pesannya.
Melihat tingginya antusiasme, POR juga membuka peluang dikembangkan ke tingkat nasional. Gagasan tersebut bahkan masuk dalam pembahasan di tingkat pusat, termasuk potensi menyisipkan kegiatan olahraga dan kebersamaan profesi dalam pertemuan radiografer Asia di Yogyakarta pada 3–5 Juni 2027 mendatang, dengan opsi cabang olahraga seperti futsal, bulu tangkis, tenis meja, hingga e-sports.
Rangkaian kegiatan ini turut didukung oleh unsur mitra, salah satunya kehadiran Agus Salim dari PT Scan Presisi. Kolaborasi solid antara organisasi profesi, pemerintah, institusi kesehatan, dan mitra terkait diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM serta pemanfaatan teknologi radiologi secara optimal bagi masyarakat luas. (Ist)
