JAKARTA, KAPOL.TV — UNESCO bekerja sama dengan Mata Media Nusantara menggelar program pelatihan khusus bagi 30 perwakilan media dan kreator konten yang berasal dari lima provinsi di Indonesia. Para peserta tersebut mencakup perwakilan dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Jawa Barat, hingga kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).
Program ini bertujuan untuk meningkatkan keahlian peserta dalam memverifikasi data, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara etis dan bertanggung jawab, serta memproduksi materi informasi yang kredibel untuk masyarakat digital.
Dalam lanskap informasi modern, para kreator konten digital, seperti blogger, podcaster, influencer, hingga pengelola media independen, memiliki andil besar dalam membentuk narasi publik. Namun, integrasi AI yang kian masif dalam produksi konten membawa tantangan tersendiri terkait keakuratan, integritas, dan kepercayaan publik.
Inisiatif ini diwujudkan melalui Lokakarya Konten: Memproduksi Konten yang Dapat Dipercaya, Menarik, dan Berkelanjutan di Era AI. Acara tersebut diselenggarakan sebagai rangkaian dari Local Media Summit 2026 sekaligus memperingati Pekan Literasi Media dan Informasi Global (Global Media and Information Literacy Week) 2026.
BACA JUGA: Cegah Kecelakaan Lalu Lintas, Satlantas Polres Tasikmalaya Gelar Safety Riding di SMAN 1 Singaparna
Penerapan Super Creators Toolkit dan Metode SIFT
Mengacu pada Super Creators Toolkit milik UNESCO, pelatihan ini membekali peserta dengan praktik langsung terkait etika pembuatan konten, verifikasi data, dan tata kelola pemanfaatan AI. Seluruh materi mengakar pada prinsip Media and Information Literacy (MIL).
Para peserta diajarkan metode SIFT, sebuah formula empat langkah untuk menyaring informasi di dunia maya:
Stop (Berhenti sejenak),
Investigate the source (Selidiki sumbernya),
Find better coverage (Cari liputan yang lebih baik/pembanding),
Trace claims, quotes, and media to the original context (Telusuri klaim, kutipan, serta media ke konteks aslinya).
Melalui lokakarya ini, pembuat konten dan media lokal didorong untuk memadukan keahlian pelaporan, riset, uji fakta, serta penceritaan digital demi menghasilkan sajian informasi publik yang lebih berkualitas.
Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menekankan pentingnya peran kreator konten di era digital saat ini.
“Kreator konten memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap cara masyarakat memahami dunia di sekitar mereka. Seiring AI menjadi bagian dari produksi konten sehari-hari, pengaruh tersebut disertai tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan keakuratan dan kredibilitas. Kreator konten perlu memiliki keterampilan untuk mempertanyakan apa yang mereka lihat, memverifikasi informasi, dan mengambil keputusan yang terinformasi mengenai apa yang mereka bagikan,” tegas Maki Katsuno-Hayashikawa.
BACA JUGA: Pemerintah Pusat Dorong Kenaikan Anggaran Humas Daerah Jadi 2 Persen, Upaya Dukung Media Lokal
Menghadapi Gangguan Informasi dan Mendorong Kolaborasi
Di sisi lain, Direktur Utama Mata Media Nusantara, Suwarjono, menyoroti kompleksitas ekosistem informasi yang dipicu oleh gangguan disinformasi dan pesatnya adopsi teknologi AI.
“Saat ini, para pembuat konten beroperasi dalam lingkungan informasi yang semakin kompleks. Penyebaran informasi yang salah dan disinformasi yang cepat, ditambah dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan, mengharuskan para kreator konten untuk memperkuat keterampilan literasi media dan informasi mereka, memverifikasi informasi secara lebih ketat, serta menjunjung tinggi standar etika dalam memproduksi dan membagikan konten. Kompetensi-kompetensi ini sangat penting untuk mempertahankan kepercayaan publik dan memastikan bahwa platform digital memberikan kontribusi positif bagi masyarakat yang terinformasi dan demokratis,” papar Suwarjono.
Selain pelatihan teknis, program ini juga menjadi wadah kolaborasi berkelanjutan antara media lokal dan komunitas kreator. Sinergi ini memungkinkan media lokal berfokus pada kedalaman riset dan verifikasi fakta, sementara kreator konten mengemas ulang informasi tersebut menjadi materi yang dinamis, interaktif, dan mudah dipahami oleh audiens digital.
Langkah strategis UNESCO dan Mata Media Nusantara ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem informasi nasional agar lebih inklusif, tangguh, serta dapat dipercaya di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. (Hasbi)
