KOTA TASIKMALAYA, KAPOL.TV — Penyelidikan kasus dugaan perundungan yang menimpa siswa di SMAN 3 Tasikmalaya terus berkembang. Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Tasikmalaya mengungkapkan adanya penambahan jumlah terduga pelaku serta langkah-langkah penanganan yang tengah berjalan.
Kepala UPTD PPA Kota Tasikmalaya, Epi Mulyana, menyatakan bahwa pihak UPTD PPA telah berkolaborasi erat dengan penyidik kepolisian dalam mengawal penanganan kasus ini. Menurut hasil koordinasi terbaru, jumlah terduga pelaku yang semula terdata 6 orang kini membengkak menjadi 11 orang.
”Dari hasil koordinasi dengan penyidik, terduganya dari semula 6, ada tambahan baru kurang lebih 5 orang. Berarti ada 11 orang terduganya,” ujar Epi Mulyana.
Epi menjelaskan bahwa pemeriksaan membutuhkan waktu yang cukup panjang mengingat banyaknya saksi yang dipanggil serta keterbatasan personel penyidik. Selain itu, karena pihak-pihak yang diperiksa masih berstatus pelajar, proses hukum harus tetap menyesuaikan dengan hak dan kewajiban mereka sebagai siswa.
”Adik-adik ini kan pelajar, harus memenuhi dulu kewajibannya sebagai pelajar. Jadi penyidik meluangkan waktu sesuai dengan pemenuhan hak-hak anak juga,” jelasnya.
Terkait status para siswa yang terlibat di sekolah, pihak SMAN 3 Tasikmalaya telah mengambil tindakan tegas berupa sanksi administratif berupa skorsing sementara.
”Kemarin saya koordinasi dengan kepala sekolah dan jajaran. Semua yang terlibat diberikan sanksi dari sekolah yaitu untuk skorsing dulu,” ungkap Epi.
Mengingat seluruh pihak yang terlibat, baik terduga pelaku, saksi, maupun korban, masih berusia di bawah 18 tahun, UPTD PPA menegaskan tidak akan melakukan judgment atau penghakiman sepihak. Pemerintah hadir untuk memberikan layanan pendampingan psikologis bagi seluruh anak yang terdampak.
Mengenai kondisi psikologis korban, Epi tidak menampik adanya rasa takut, khawatir, hingga keinginan korban untuk berpindah sekolah berdasarkan hasil asesmen awal. Namun, penanganan intensif dari tim psikolog terus diberikan.
”Alhamdulillah setelah kita komunikasi dengan psikolog, anak, dan orang tua, mudah-mudahan hasil dari pertemuan kedua kemarin insya Allah tidak ada muara untuk yang kurang baik,” harapnya.
BACA JUGA: Tembus 4,1 Juta Ton, Stok Beras Bulog Resmi Pecahkan Rekor
Di akhir keterangannya, Epi mengajak masyarakat, pihak sekolah, dan orang tua untuk mengambil hikmah positif dari peristiwa ini. Ia menekankan pentingnya sinergi antara peran sekolah dan ketahanan keluarga dalam mendidik anak.
”Orang tua harus memahami ketahanan keluarga itulah yang paling utama, dan sekolah hanya tempat penitipan pendidikan. Selama pendidikan itulah kita harus komit antara orang tua, sekolah, dan si anak yang memahami tugas pokoknya,” pungkas Epi. (Hasbi)
