Tembus 4,1 Juta Ton, Stok Beras Bulog Resmi Pecahkan Rekor

2 Komentar
X
Bagikan

CIAMIS, KAPOL.TV – Stok pangan nasional berada di posisi yang sangat aman. Perum Bulog mencatatkan sejarah baru dalam penyerapan beras dalam negeri. Sampai 8 Oktober 2026, akumulasi pasokan beras Public Service Obligation (PSO) yang berhasil dihimpun telah menyentuh 4,11 juta ton setara beras. Jumlah tersebut berada di angka 102,88 persen dari sasaran yang diamanatkan pemerintah, yaitu 4 juta ton.

​Angka penyerapan ini memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah berdirinya Bulog. Capaian ini sukses melampaui rekor masa lalu pada 2012 sebesar 3,65 juta ton, sekaligus melonjak dibanding realisasi 2025 yang berada di level 3,19 juta ton.

​Keberhasilan penyerapan didorong oleh penguatan jaringan di area sentra beras, kesiapan infrastruktur gudang, serta respons cepat tim di lapangan saat panen raya. Salah satu wilayah penopang utama adalah Bulog Kantor Cabang Ciamis di Priangan Timur yang menyerap 140 ribu ton gabah kering panen (GKP), setara 187 persen dari target wilayahnya.

BACA JUGA: 24 Kecamatan di Ciamis Terdampak Kekeringan, Warga Gelar Shalat Istisqa

​Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan apresiasi atas dedikasi jajaran di lapangan dan kolaborasi dengan berbagai instansi.

​”Capaian lebih dari 4 juta ton setara beras yang memecahkan rekor capaian tertinggi sepanjang BULOG berdiri ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada kerja keras, dedikasi, dan semangat seluruh insan BULOG di berbagai penjuru Indonesia yang terus bergerak, turun langsung ke lapangan. Keberhasilan melampaui target ini menjadi bukti bahwa dengan kerja bersama, amanah Pemerintah dapat kita jalankan secara optimal,” Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Dr Ahmad Rizal Ramdhani, Jumat (9/10/2026).

​Keberhasilan pengadaan di tingkat petani ini sekaligus menjadi kado berharga menyambut dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Lewat ketersediaan pasokan yang melimpah, Bulog siap memperkuat ketersediaan bahan pokok, menjaga kestabilan harga pasar, dan mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP).*** (Tim Liputan)