KOTA TASIKMALAYA, KAPOL.TV – Sampah yang kerap dipandang sebelah mata kini disulap menjadi sumber daya bernilai tinggi di SMAN 6 Tasikmalaya. Melalui program kokurikuler yang diinisiasi sejak tahun 2025, pihak sekolah bersama para siswa sukses mengelola limbah organik sekolah, kantin, rumah tangga, hingga sebagian kecil sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi produk yang bermanfaat.
Koordinator Kokurikuler yang juga guru kimia di SMAN 6 Tasikmalaya, Nandar Setiamulyadi, menjelaskan bahwa program ini berlatar belakang keprihatinan warga sekolah terhadap masalah sampah. Langkah tersebut sekaligus selaras dengan kebijakan pemerintah, mulai dari kurikulum perubahan iklim dari Permendikbudristek hingga program Panca Waluya di Jawa Barat.
”Harapannya nanti siswa bisa sesuai dengan delapan dimensi profil lulusan. Terutama yang utama adalah bagaimana kita menerapkan pendidikan karakter di sekolah, agar mereka terbiasa dengan pengolahan sampah, harapannya bisa dibawa nanti terjun di dunia masyarakat seperti itu,” ujar Nandar.
Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah memprioritaskan pengolahan sampah organik karena penanganannya yang lebih aman dibandingkan sampah anorganik yang kerap terkendala masalah alat serta polusi dan jelaga. Sampah daun, sisa sayuran, hingga limbah rumah tangga diolah menjadi kompos, pupuk organik cair (POC), hingga pakan ternak.
Tidak hanya itu, sekolah juga mengembangkan budidaya maggot (Black Soldier Fly) sebagai pengurai sampah yang jauh lebih efektif dan cepat. Nandar memaparkan bahwa dari 20 gram telur maggot, dalam kurun waktu 21 hari mampu menghasilkan hingga 146 kilogram maggot yang berfungsi sebagai pakan tambahan berprotein tinggi untuk ikan dan ayam peliharaan sekolah.
Terkait isu yang sempat beredar mengenai sisa program MBG, Nandar menegaskan bahwa limbah MBG hanyalah sebagian kecil dari total keseluruhan sampah yang dikelola.
”Sekali lagi kami tekankan bahwa pengolahan sampah di kita tuh bukan hanya dari MBG. MBG hanya sebagian kecillah, karena tidak setiap hari kan ada sisa… daripada dibuang begitu saja, menimbulkan bau, akhirnya dari sisa sedikit sampah MBG itu kita kelola, yaitu tadi sebagai hasil daripada limbah rumah tangga yang nanti dijadikan sebagai pakan ikan dan pakan ayam dan juga maggot, biar tidak jadi sebuah yang tidak mubadir,” jelas Nandar.
Seluruh hasil akhir produk seperti maggot, ayam, dan ikan tidak diperjualbelikan secara komersial ke luar, melainkan dimanfaatkan oleh warga sekolah dan keuangannya diputar kembali untuk membeli pakan penunjang seperti dedak.
BACA JUGA: Gencarkan Digitalisasi Dakwah, PD BKMM DMI Kota Tasik Sasar Anak Muda Agar Tak “Kehilangan Masjid”
Program kokurikuler ini melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa kelas 10, 11, hingga 12, dengan menunjuk kelas tertentu seperti kelas 11-3 dan 11-11 sebagai pilot project.
Salah seorang siswa kelas 11-3, Najla Latisha, mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga, termasuk pemahaman mengenai konsep ekonomi sirkular.
“Lewat kegiatan ini, kami belajar menerapkan sistem ekonomi sirkular, jadi berputar yang di mana nantinya akan menghasilkan suatu produk yang bermanfaat. Ini menjadi bekal hard skill bagi kami, baik untuk persiapan di dunia kerja maupun diterapkan di lingkungan rumah kelak,” ungkap Najla.
Hal senada juga diungkapkan oleh Shaffal Ulla, siswa kelas 11-11. Ia merasa bangga karena SMAN 6 Tasikmalaya memberikan ruang belajar praktis di luar teori kelas konvensional.
“Jarang-jarang sekolah SMA mengadakan kegiatan seperti peternakan seperti ini, kayak pertanian perkebunan yang ada di sana… pengalaman dan basic yang kami dapatkan di sini tentu bisa menjadi bekal keterampilan tambahan atau kerja sampingan saat kami lulus dan hidup di tengah masyarakat nanti,” pungkas Shaffal. *** (Hasbi)
