Menemukan Ketenangan Hidup Bersama Kang Yanto Oce: Kesederhanaan Tokoh Sosial Tasikmalaya yang Tak Pernah Pudar

1 Komentar
X
Bagikan

KOTA ​TASIKMALAYA, KAPOL.TV — Di tengah hiluk-pikuk kehidupan kota dan kejaran ritme dunia yang seolah tak pernah melambat, ada sosok-sosok yang selalu berhasil mengingatkan kita untuk kembali menapak bumi. Bagi saya pribadi sebagai penulis, salah satu sosok itu adalah Kang Yanto Oce, Tokoh Sosial asal Tasikmalaya.

​Awal mula saya mengenal sosok beliau terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya di masa sulit ketika pandemi COVID-19 melanda. Saat banyak orang panik dan kehilangan arah, Kang Yanto hadir dengan kehangatan dan aksi sosial yang menenangkan. Sejak detik itu hingga hari ini, tidak ada yang berubah dari dirinya. Beliau tetaplah sosok yang someah (ramah), sederhana, rendah hati, dan suka bercanda. Di balik kelakar-kelakarnya, beliau kerap diam-diam menyelipkan motivasi berharga yang menguatkan saya hingga detik ini.

​Konsistensi nilai hidup itulah yang kembali ia tunjukkan baru-baru ini saat santai duduk di sebuah gubuk kebun sederhana di kawasan Cibeureum. Dari kebun dan gubuk reot tersebut, Kang Yanto kembali membagikan pemikiran-pemikiran yang menyentuh sanubari tentang arti rezeki dan ketenangan sejati.

​Rezeki dan Ketenangan yang Menapak Bumi

​Sembari menikmati suasana kebun yang asri, Kang Yanto mengingatkan bahwa proses kehidupan membutuhkan kesabaran dan tidak ada yang serba instan.

​”Di bawah gubuk ini saya belajar tidak semua yang tumbuh cepat berbuah manis, semua butuh waktu. Duduk di gubuk kebun baru sadar, rezeki itu bukan di gedung tinggi tapi di tanah yang kita injak sendiri,” ujar Kang Yanto.

BACA JUGA: Gencarkan Digitalisasi Dakwah, PD BKMM DMI Kota Tasik Sasar Anak Muda Agar Tak “Kehilangan Masjid”

​Bagi beliau, kemewahan fisik sering kali kalah dengan kedamaian jiwa. Ketika banyak orang perkotaan mencari pelarian (healing) hingga jauh ke luar daerah, gubuk kebun dan embusan angin desa justru menawarkan jawaban yang jauh lebih menenteramkan.

​”Gubuk nyariot, kopinya pahit, tapi hadir di sini jauh lebih tenang daripada nongkrong di kota-kota besar. Lebih nyaman,” tambahnya seraya tersenyum khas.

​Pesan ‘Ulah Poho Ka Taneuh’ dan Filosofi Tawadu

​Salah satu bagian yang paling berkesan bagi saya dari penuturannya adalah bagaimana beliau memandang tanah sebagai simbol kerendahan hati dan sumber kehidupan. Beliau teringat pesan dari sang ibu yang selalu menjadi pegangan hidupnya.

​”Ibu saya pernah bilang kalau capek pulang ke kebun, karena tanah tidak menolak kita… Warisan bukan emas, warisan cuman gubuk ini dan pesan ‘ulah poho ka taneuh’ (jangan lupa pada tanah),” tutur Kang Yanto.

​Beliau melengkapi filosofi ini dengan mengaitkannya pada ajaran agama dan kehidupan sehari-hari. Jika kitab kuning mengajarkan tauhid, maka gubuk kebun ini mengajarinya sikap tawadu (rendah hati). Di kebun, siapa pun diingatkan bahwa manusia bukanlah siapa-siapa tanpa tanah.

​Mutiara Motivasi: “Lelah Boleh, Menyerah Jangan”

​Mendengar ucapan-ucapan beliau selalu membawa dampak tersendiri bagi perjalanan karir dan pribadi saya. Di balik pembawaannya yang humoris dan tanpa beban, kebun ini adalah saksi bisu perjuangan keras seorang Kang Yanto Oce dalam melewati berbagai fase sulit kehidupan.

​”Kebun ini saksi bisu karena beberapa kali saya hampir menyerah. Tenang tidak dicari di keramaian, tenang ada di bawah gubuk kebun. Lelah boleh, menyerah jangan,” tegasnya.

​Ia pun menutup percakapan itu dengan mengingatkan bahwa hakekat rezeki yang sebenarnya tidak selalu berwujud angka di dalam ATM, melainkan pada akar dan usaha yang kita rawat dengan sungguh-sungguh setiap pagi.

​Bagi saya, mengenal dan menyimak setiap petuah Kang Yanto Oce bukan sekadar wawancara atau perjumpaan biasa, melainkan pengingat diri agar terus menjadi manusia yang rendah hati dan bersyukur. Dari gubuk sederhana di Tasikmalaya, beliau mengajarkan kita semua cara menjadi “manusia yang sebenarnya”. (Red)

Oleh: Muhammad Hasbi

Pemred Kapol TV