KOTA TASIKMALAYA, KAPOL.TV – Tidak terundangnya Gerakan Pemuda (GP) Ansor dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tingkat Kota Tasikmalaya menjadi sorotan. Persoalan ini dinilai perlu menjadi bahan evaluasi agar momentum Hari Santri tetap mencerminkan semangat persatuan, kebersamaan, dan keterbukaan bagi seluruh elemen santri.
Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Bungursari, M. Asep Ramdan Alqusaeri, menilai peringatan Hari Santri Nasional semestinya menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah, merawat tradisi pesantren, serta memperkuat sinergi antara pemerintah dan seluruh elemen santri.
Menurutnya, GP Ansor sebagai organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren berharap peringatan Hari Santri dapat berlangsung secara inklusif tanpa membeda-bedakan elemen santri berdasarkan latar belakang organisasi.
Ia mengingatkan agar momentum peringatan Hari Santri tidak justru memunculkan pertanyaan mengenai pihak yang dirangkul dan pihak yang terlewatkan dalam kegiatan resmi.
“Jangan sampai momentum Hari Santri justru menghadirkan pertanyaan tentang siapa yang dirangkul dan siapa yang ditinggalkan,” demikian pesan yang disampaikan Asep dalam menyoroti persoalan tersebut.
BACA JUGA: Musyawarah Daerah Ke- III Majlis Daerah KAHMI Kab.Tasikmalaya
Asep menegaskan, Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu menjadikan persoalan ini sebagai bahan evaluasi, mengingat Hari Santri bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, peringatan tersebut merupakan momentum untuk menghargai perjuangan para kiai, ulama, santri, dan seluruh elemen yang selama ini menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta tradisi pesantren.
Meski demikian, ia menekankan bahwa persoalan tidak terundangnya GP Ansor tidak semestinya langsung berkembang menjadi sentimen pribadi ataupun prasangka terhadap pihak tertentu.
“Tidak diundangnya GP Ansor tidak serta-merta menjadi alasan untuk menuduh adanya kepentingan pribadi di balik penyelenggaraan kegiatan. Namun, keterbukaan dan penjelasan yang proporsional tetap penting agar tidak muncul kesan adanya sekat dalam momentum yang seharusnya menyatukan,” tegasnya.
Tegaskan Tetap Menjadi Santri Para Kiai
Di tengah persoalan tersebut, Asep menegaskan bahwa tidak adanya undangan dalam kegiatan resmi tidak akan mengurangi komitmen GP Ansor terhadap perjuangan para ulama dan pesantren.
“Diundang atau tidak diundang, kami tetap santrinya para kiai,” ujarnya.
Menurut Asep, pernyataan tersebut bukan bentuk pembangkangan ataupun upaya mencari panggung, melainkan penegasan bahwa kecintaan terhadap ulama, pesantren, dan perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama tidak bergantung pada undangan, panggung, maupun pengakuan dari pihak mana pun.
Ia menyatakan, GP Ansor akan tetap berpegang pada nilai-nilai perjuangan para kiai, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta terus mengabdi kepada masyarakat.
BACA JUGA: Mengintip Kiat Bisnis Kreatif Properti di Tasikmalaya Bersama CEO Sofwan Land Indonesia
Asep juga mengingatkan Pemerintah Kota Tasikmalaya bahwa peringatan Hari Santri merupakan milik seluruh santri, bukan hanya mereka yang terlibat dalam lingkaran acara resmi.
Menurutnya, semangat Hari Santri seharusnya melampaui batas organisasi, kedekatan, maupun kepentingan tertentu. Apabila pemerintah menghendaki terwujudnya kebersamaan, ruang partisipasi bagi seluruh elemen kepesantrenan perlu dibuka secara luas.
“Jangan sampai slogan persatuan terdengar lantang di atas panggung, tetapi semangat merangkul justru belum dirasakan oleh semua elemen,” ungkapnya.
Berharap Koordinasi Pemerintah dan Organisasi Kepesantrenan Diperbaiki
Lebih lanjut, Asep berharap koordinasi dan komunikasi antara pemerintah daerah dengan organisasi-organisasi kepesantrenan dapat dibangun lebih baik pada pelaksanaan kegiatan serupa ke depan.
Dengan demikian, peringatan Hari Santri Nasional di Kota Tasikmalaya diharapkan benar-benar menjadi ruang bersama yang mempertemukan berbagai elemen pesantren dan organisasi keagamaan dalam semangat persaudaraan.
Ia menilai, esensi menjadi santri tidak ditentukan oleh siapa yang mengundang ataupun siapa yang mendapat undangan. Nilai kesantrian justru tercermin melalui kesetiaan terhadap ilmu, adab kepada kiai, serta pengabdian kepada umat dan bangsa.
BACA JUGA: Pemerintah Dorong Pengembangan Basket Tasikmalaya, Targetkan Pembinaan hingga Pelosok
“Diundang atau tidak diundang, khidmah tetap berjalan. Sebab, perjuangan santri tidak pernah berhenti hanya karena tidak mendapat tempat di panggung perayaan,” pungkas Asep.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat Hari Santri tidak cukup diwujudkan melalui seremoni tahunan. Keterbukaan, komunikasi, dan pelibatan berbagai elemen kepesantrenan juga menjadi bagian penting dalam menjaga makna persatuan yang ingin diteguhkan melalui peringatan Hari Santri Nasional.
Menanggapi hal tersebut, Kabag Kesra Setda Kota Tasikmalaya Asep Dudi menuturkan, pihaknya membantah bahwa Pemkot Tasikmalaya tidak mengundang GP Ansor dalam kegiatan HSN 2026.
“Diundang kang, atos tadi disampaikan ke ketua GP Ansor,” ujar Asep. (Hasbi)
