Komisi X DPR RI Ferdiansyah menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga sekaligus memajukan kebudayaan Indonesia di tengah arus digitalisasi. Menurutnya, anak muda kini menjadi garda terdepan karena memiliki kemampuan teknologi yang lebih kuat dan mampu menyebarluaskan nilai-nilai budaya melalui berbagai platform digital.
“Selama ini kita banyak menyentuh pelaku budaya dari kalangan yang lebih tua. Sekarang generasi muda harus menjadi ujung tombak. Di era digitalisasi, mereka tidak gagap teknologi,” ujar Ferdiansyah dalam kegiatan di Kota Tasikmalaya, Kamis (13/11/2025).
Ia menjelaskan, generasi muda berperan besar dalam mensosialisasikan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 2017, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, seni, bahasa, hingga permainan dan olahraga tradisional.
Ferdiansyah menilai pemanfaatan media digital—termasuk pembuatan film pendek—dapat menjadi cara efektif menanamkan nilai budaya dan kearifan lokal. “Di Tasikmalaya maupun Garut, banyak objek budaya seperti batik, kerajinan mendong, hingga situs cagar budaya. Ini semua bisa diangkat tanpa dibatasi wilayah administrasi,” jelasnya.
Ia juga mendorong anak muda memanfaatkan teknologi seperti kamera ponsel untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan menyebarluaskan budaya lokal hingga dikenal masyarakat internasional. Konten budaya, lanjutnya, dapat dikemas ulang dalam format yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai esensialnya.
Selain itu, generasi muda dapat menjadi agen edukasi di lingkungan sekitar untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya serta menangkal pengaruh negatif budaya asing. Penggunaan bahasa daerah dalam percakapan maupun konten digital juga diyakini dapat membantu menjaga bahasa yang terancam punah.
Secara umum, ia menegaskan bahwa generasi muda merupakan agen perubahan strategis dalam mengintegrasikan teknologi dengan pelestarian budaya.
“Anak muda harus berbuat yang terbaik untuk warisan budaya. Salah satunya dengan menciptakan karya inspiratif seperti film dokumenter budaya,” pungkas Ferdiansyah.












