Masyarakat Priangan Timur kini memiliki akses lebih dekat terhadap layanan penanganan gangguan irama jantung (aritmia). Rumah Sakit JHC Tasikmalaya kali pertama berhasil melaksanakan tindakan ablasi jantung terhadap dua pasien yang mengalami Supraventricular Tachycardia (SVT), menandai dimulainya layanan ablasi jantung di rumah sakit tersebut.
Prosedur yang dilaksanakan pada Selasa (7/7/2026) itu menjadi layanan ablasi jantung pertama di RS JHC Tasikmalaya sekaligus menjadi tonggak baru bagi pelayanan kesehatan jantung di wilayah Priangan Timur.
Kedua pasien menjalani tindakan secara bertahap dan berlangsung lancar. Pasien pertama menjalani prosedur sekitar satu jam, disusul pasien kedua pada sesi berikutnya. Setelah tindakan, keduanya berada dalam kondisi stabil dan menjalani perawatan untuk proses pemulihan.
Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan kelainan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti jantung berdebar, pusing, sesak napas, mudah lelah hingga pingsan. Apabila tidak ditangani secara tepat, aritmia berpotensi meningkatkan risiko stroke maupun gagal jantung.
Salah satu metode penanganan yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi adalah ablasi jantung. Prosedur minimal invasif ini dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung untuk menemukan sekaligus menghilangkan sumber gangguan irama jantung, sehingga pasien dapat kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.
Sebelumnya, pasien dari Tasikmalaya dan daerah sekitarnya harus dirujuk ke Bandung, Jakarta, Solo, atau Surabaya untuk mendapatkan layanan tersebut. Kondisi itu tidak hanya memperpanjang waktu penanganan, tetapi juga menambah beban biaya dan perjalanan bagi pasien beserta keluarga.
Kini, layanan ablasi jantung telah tersedia di RS JHC Tasikmalaya dengan dukungan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia, dr. Irnizarifka, Sp.JP., Subsp.Ar(K), bersama tim Cath Lab yang berpengalaman. Rumah sakit juga dilengkapi teknologi pemetaan elektrofisiologi jantung dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) yang mendukung akurasi tindakan.
Direktur RS JHC Tasikmalaya, dr. H. Idrus Dilawar, MARS, mengatakan pelaksanaan ablasi perdana tersebut menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kualitas layanan jantung bagi masyarakat.
“Melalui layanan ini kami ingin memberikan akses yang lebih mudah bagi pasien dengan gangguan irama jantung agar memperoleh terapi yang tepat tanpa harus pergi ke luar daerah. Harapannya, angka komplikasi dapat ditekan dan kualitas hidup pasien semakin baik,” ujarnya kepada awak media, Rabu (8/7/2026).
Keberhasilan tindakan perdana ini diharapkan menjadi awal pengembangan layanan jantung yang lebih lengkap di Priangan Timur. Dengan tersedianya fasilitas dan tenaga medis yang kompeten, masyarakat kini dapat memperoleh layanan ablasi jantung lebih cepat, efektif, dan efisien tanpa harus menjalani proses rujukan ke rumah sakit di kota-kota besar.










