Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya menggelar Sekolah Pasar Modal (SPM) di Kabupaten Sumedang pada Selasa (18/3). Sebagai bagian dari program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Acara ini bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat dan Phintraco Sekuritas. Untuk meningkatkan literasi pasar modal, khususnya di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mahasiswa. Plt. Kepala Kantor OJK Tasikmalaya, Melati Usman, menekankan pentingnya edukasi keuangan. OJK Tasikmalaya mengedukasi masyarakat agar mereka memahami dan berinvestasi di pasar modal sebagai alternatif instrumen investasi.
Sebanyak 50 ASN tingkat pemula (Level 1) mengikuti SPM perdana di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang. Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Pemkab Sumedang, Mulyani Toyibah, menyambut baik inisiatif ini sebagai upaya meningkatkan inklusi keuangan. Kepala Bagian Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Tasikmalaya. Dendy Juandi, mengungkapkan bahwa tingkat inklusi keuangan di sektor pasar modal masih rendah. Hingga Desember 2024, Sumedang memiliki 52.822 investor pasar modal, atau 0,004 persen dari jumlah penduduknya yang mencapai 1,22 juta jiwa.
Dalam sesi materi, Trainer KP BEI Sri Herlinawati menjelaskan konsep dasar pasar modal, saham, dan reksadana. Serta pentingnya pengelolaan keuangan sebelum berinvestasi. Senior Executive Relationship Phintraco Sekuritas, Megasari J. Putri, membahas strategi investasi, termasuk analisis fundamental yang menilai laporan keuangan dan dividen. Serta analisis teknikal yang fokus pada pergerakan harga saham. OJK menegaskan bahwa memahami risiko investasi sangat penting agar masyarakat dapat memilih strategi yang sesuai dengan tujuan keuangan mereka.

